Kota Milik Orang Muda?

6

 

Apa kabar sekarang flashmob, gangnam style, dan shuffle?

Di tengah 2012 sampai awal 2013, ada banyak tren dansa massal yang merambat sampai ke orang-orang muda Indonesia. Flashmob yang di Amerika Serikat awalnya banyak digelar untuk acara-acara kampanye kemanusiaan dan perlindungan perempuan, di Indonesia kemudian jadi ajang penting banyak brand dengan memanfaatkan orang-orang muda (katakanlah usianya 15 hingga 24 tahun) sebagai peramai helatan.

Gangnam style yang baru-baru saja naik daun –waktunya agak rapat dengan fenomena shuffle dance yang tidak lebih masif, sempat ramai diberitakan dari ruang-ruang publik beberapa kota besar di Tanah Air. Rasa-rasanya… tidak cuma Jakarta yang akrab dengan aneka gerakan dansa massal pengaruh negara lain ini. Menjauhkan asumsi “tidak nasionalis” dan “dikotomi budaya” yang masih sangat bisa diperdebatkan di banyak ruang, pada kesempatan ini saya mensyukuri bahwa orang-orang muda di kota-kota besar kita sempat mengenal cuplik-cuplik budaya milenial seperti itu.

Dansa dan musik yang memerlukan puluhan penari mutlak menggaet kepentingan sosial di dalamnya, tidak terkecuali kebutuhan akan ruang bergerak. Maka dipakailah silang monas dan kawasan Bundaran Hotel Indonesia untuk flashmob dan gangnam style –termasuk beberapa yang diikuti oleh menteri dan para lansia dan menghebohkan televisi itu. Dengan bergesernya preferensi publik, khususnya orang-orang muda untuk turut menggemari tren dansa publik seperti ini, terbukalah ruang-ruang publik baru yang dihidupkan dengan musik dan gerakan kolektif.

Hasilnya menggembirakan: kepedulian orang muda terhadap ruang-ruang publik dengan sendirinya meningkat (sudah adakah statistik dalam negeri yang melakukan survey atas ini?).

Kota pada dasarnya jadi tempat hidup orang dari berbagai kelas usia, tapi sejak tahun 2000, di mana pertukaran ekonomi membawa semakin banyak orang pada era dunia terbuka, kehidupan bersosial kita perlahan-lahan dibentuk oleh banyak media baru yang datang seiring perkembangan pengetahuan. Shuffle, gangnam style, dan flashmob mungkin dianggap sebagai media budaya, tapi di sisi lain bentuk-bentuk tren ini membantu pandangan orang-orang muda kita soal apa dan bagaimana seharusnya kota hidup dengan orang-orangnya.

Di banyak waktu kota bagiku tidak ubahnya bentang alam dan garis-garis gedung saja. Sampai kusadari perannya dalam alur waktu manusia dan terbentuknya sejarah. — Ruth Ozeki, A Tale for the Time Being.

Dibukanya ruang-ruang publik untuk orang muda yang punya banyak kreasi memungkinkan hubungan manusia-ruang materi jadi semakin mencair dan nyata. Ada banyak hal seperti bencana Chernobyl di Ukraina atau Fukushima Daichi di Jepang yang memutus rantai hubungan kehidupan manusia dengan lingkungannya. Beruntung kita tinggal di Indonesia di mana risiko-risiko katastropik seperti itu rasa-rasanya tidak akan terjadi. Kehidupan di ruang-ruang publik kita juga sangat dibantu oleh budaya kolektivisme kita yang justru berakar dari rasa penasaran atas keragaman budaya.

Orang-orang muda di Jakarta yang plural mungkin tidak bedanya dengan orang-orang muda di sebuah kabupaten di Ende di mana mereka sangat menerima orang ras apapun dari daerah manapun di ruang-ruang publik mereka. Ketika saya tiba pertama kali di Stasiun Gambir dan melihat ujung puncak Monas dari balik dedaunan pohon, ada secuil kesan dan rasa bahwa saya itu orang Jakarta, dan mungkin perlu mengamati juga apa dan bagaimana seharusnya ruang publik di Monas terbentuk dan membantu gerak aktivitas manusia.

Artinya apa? Artinya, rasa kepemilikan terhadap kota kita sebetulnya bisa berangkat dari pandangan bahwa kebutuhan emosional kita (entah itu untuk hiburan dansa, duduk membaca, atau berinteraksi dengan orang-orang) akan selalu bisa disambut oleh sebuah ruang dimensi materi di trotoar, plasa Monas, atau Tugu Muda yang telah terbentuk sedemikian rupa sebagai ruang interaksi. Inilah juga alasannya kenapa kita punya ukuran di dalam pikiran… seperti apa ruang publik yang cocok untuk kita, dan seperti apa lingkungan yang tidak mendukung kehidupan sosial kita,

Orang muda beruntung karena kehidupan abad ke-21 dibuat kaya dengan kemajuan teknologi yang membuat kita lebih dekat dengan tren-tren di belahan dunia lain. (Sekali lagi) dengan menyisihkan sejenak asumsi dampak kurang baik dari ketergantungan terhadap teknologi kita, kita paling tidak bisa berpikir bagaimana kebiasaan-kebiasaan yang bersifat tren, atau gaya-gaya publik baru di ruang terbuka bisa bikin kita ikut-ikutan peduli terhadap ruang-ruang terbuka yang kita perlukan ini.

Orang-orang muda yang penuh gaya tidak semestinya merasa individualis dan menganggap kota sebagai ruang pemenuhan kebutuhan hidup semata. Melihat sisi emosional atau kaitan mutualisme kota-tren muda mestinya bisa bikin kita berpikir, “Oh ya! Jadi acara-acara Earth Hour itu ternyata ada maksudnya to?!”

Bukankah mengejutkan juga bagi kita orang muda ketika Jakarta disebut sebagai kota yang “tidak cocok untuk hidup menetap”?

Jadi selain mungkin saja akan ada tren-tren dansa massal baru yang merebak di kalangan muda dan remaja kita, bolehlah sedikit kita optimis bahwa ruang-ruang terbuka di kota kita pasti (pasti!) diperhatikan oleh lebih banyak lapisan sosial. Kita, di tahun-tahun depan, mungkin masih akan mengetweet “Yuk ngumpul yuk!”, kemudian ratusan orang berkumpul di sebuah lapangan batako di antara gedung-gedung pemerintah, kemudian mengangkat tangan bersama sembari memahami bahwa ruang terbuka kota telah jadi bagian dari kehidupan kita yang semakin canggih, individualis, dan progresif.

***

sumber gambar: ritholtz.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s