Kota dan Kemasan Wisatanya

toraja

 

Salah satu daerah tujuan wisata di Sulawesi Selatan yang memiliki kunjungan wisatawan mancanegara cukup tinggi adalah Kabupaten Tanah Toraja. Upacara pemakaman anggota keluarga yang sebelumnya diawetkan selama bertahun-tahun selalu menjadi daya tarik pengunjung. Rambu Solo yakni upacara pemakaman anggota keluarga di Tanah Toraja mungkin sama meriahnya atau lebih meriah dengan pesta pernikahan di kampung saya, di Sulawesi Selatan.

Yang jadi pertanyaan mengapa orang Toraja rela menghabiskan biaya hingga ratusan juta untuk upacara kematian? Tapi pertanyaan tadi lalu menjadi tidak penting, karena secara keseluruhan upacara Rambu Solo justru menjadi daya tarik utama wisata di Tana Toraja, selain mengunjungi patung-patung dan boneka menyerupai mayat.

Tidak jauh berbeda dengan wisata yang ditawarkan Bali, seorang teman yang selama 2 bulan melakukan penelitian di Subak mengatakan bahwa sangat sulit menandingi pariwisata di Bali kecuali, ada tradisi di daerah lain yang sama kuatnya, dan mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Pada tatanan konsep secara fisik, pengaruh budaya dan agama di kota pariwisata seperti Bali, Jogja dan Toraja sebenarnya telah terbangun. Misalnya, pola tata ruang yang ada di Bali mengacu pada pola Tri Hita Kirana atau di Jogja dengan Catur Catra Tunggal, Toraja dengan Aluk Toddolo. Konsistensi budaya dan kosmologi masyarakat Bali, Toraja dan Yogyakarta diterjemahkan dalam pola ruang perkotaan.

Pengaruh budaya cukup besar dan berdampak pada kenyamanan wisatawan melancong di kota-kota tematik tersebut. Misalnya, wisman dan wisatawan domestik tidak perlu merasa khawatir tersesat di Yogyakarta. Mengapa? Salah satunya adalah pengaruh pola dan tata ruang kota Yogyakarta yang mengacu pada Catur Catra Tunggal (Merapi, Tugu, Alun-alun, pasar, keraton dan Pantai) sebagai satu garis imajiner yang membentang membelah simetris kawasan dan perkampungan yang ada di jogja dengan sistem jaringan jalan.
Wisata Tradisi dan Spiritual, Ada Apa dengan India?

Eric Weiner seorang koresponden dan mantan reporter The New York Times mengungkapkan dalam bukunya “The Geography of Bliss”tentang perjalanan mencari kebahagiaan di kota-kota dan negara yang terkenal dengan penduduknya yang bahagia.

Namun dimasukkannya India menjadi bagian dari perjalanan Weiner tadinya cukup membingungkan juga. Mengapa India? Bukankah kekerasan seksual di negara ini bisa menjadi faktor kehati-hatian wisatawan mancanegara melancong ke India?

Menurut Weicner, rupanya India memiliki daya tarik lain yang mampu membuat jatuh cinta satu perempuan asal Amerika yang awalnya hanya liburan lalu akhirnya menetap beberapa waktu di India untuk menemukan ketenangan hidup. Bagi wisatawan Amerika ini, negaranya terlalu sibuk, orang-orang bertingkah bagai robot sehingga dia mencari ketenangan dengan melakukan Yoga.

Menurutnya India adalah tempat meditasi paling cocok buatnya, tidak salah jika daerah Bangalore yang terkenal sebagai kota lembah silikon ini juga menjadi tujuan wisata karena banyaknya rumah-rumah Yoga. Jadi orang dari benua Amerika datang jauh-jauh ke India untuk merasakan pengalaman melakukan Yoga? Sebagai pemicu, Saya katakan Iya!

Sepertinya semua hal yang berhubungan dengan agama, spiritual bisa menjadi bagian dalam pariwisata, sekalipun tidak dilontarkan dalam promosi-promosi pariwisata yang berbiaya besar. India dan Bali memiliki kesamaan, pariwisata di Bali dan Bangalor dipengaruhi karena budaya dan nilai-nilai spiritual.

Kolega yang cukup lama tinggal di Jogja kemudian ke Bali mengatakan bahwa tadinya dia mengganggap Jogja adalah kota ternyaman, namun setelah menginjakkan kaki di Bali pendapat itu tidak berlaku lagi.

Alasannya? Ada pengalaman spiritual yang sering dia saksikan. Seperti, setiap pagi, di depan rumah orang Bali pasti ada kemenyan/banten, atau kegiatan sembahyang. Aroma kemenyan di berbagai sudut kota menambah kesan sakral baginya, secara subjektif dirinya mengganggap bahwa berada di Bali seperti berada di belahan bumi yang lain.

Wisata tradisi mengutamakan nilai, dan wisatawan mancanegara sudah mencukupi diri mereka dengan kemajuan pembangunan yang ada di negaranya. Tugas kita bukan menyediakan apa yang ada di negara mereka ke Indonesia, tapi mempertahankan apa yang Indonesia miliki seperti tradisi,budaya dan spiritual untuk wisman.

Lalu bagaimana Peluang Wisata Tradisi di Indonesia?

Akhir tahun 2010 saya berkunjung ke salah satu kecamatan di Kabupaten Luwu Timur, tepatnya di daerah Malili. Saat itu kami kelompok mahasiswa, tengah ditugasi menyusun laporan Rencana Induk Pariwisata Daerah sebagai salah satu tugas studio. Sampailah akhirnya kami di rumah seorang tetua adat bernama Pua’ Cerekang untuk menggali informasi Puak terkait lokasi Sumur Jodoh.

Ternyata untuk menemukan Sumur Jodoh tidak semudah yang dibayangkan, kami harus meminta persetujuan 5 ketua adat untuk disetujui lalu mengadakan upacara adat semacam “mohon restu” agar niat kami tidak berujung pada hal-hal buruk. Saya pernah berfikir apakah ini hanya cara-cara Puak yang kurang berkenan jika kami mengunjungi sumur itu secara langsung.

Melakukan upacara adat bagi saya waktu itu sudah tidak mungkin, karena kami datang ke Malili tidak pernah memperkirakan faktor-faktor ritual dalam rencana kerja kami. Izin yang alot dan proses yang agak rumit ini menjadikan tugas pencarian lokasi pengembangan pariwisata terhenti sementara kala itu.

Di banyak bagian Sulawesi Selatan, mengembangkan wisata tradisi dan budaya memang tidak mudah. Budaya dan adat adalah bagian yang jarang disentuh oleh masyarakat apalagi dibuatkan dalam perayaan besar seperti di Jogja atau Bali. Nilai agama sangat kuat mengakar di kehidupan masyarakat, yang percaya bahwa mempercayai adat sama dengan menistakan ajaran agama yang murni.

Akan tetapi pengetahuan ini terbatas pada mereka yang disebut “bekas keluarga kerajaan” saja. Itulah mengapa, banyak daerah yang memiliki nilai budaya dan berpotensi untuk menjadi daerah wisata justru tidak didukung sebagai bagian dari pariwisata. Peluang pemerintah sebenarnya cukup besar mengembangkan wisata tradisi di bagian timur Indonesia.

Perlu konsep yang jelas dan sasaran yang tepat ditunjang dengan pemahaman masyarakat yang semakin terbuka dan luas melihat fungsi pariwisata tradisi yang mereka miliki. Pada beberapa wilayah yang memiliki tradisi cukup unik seperti Kabupaten Jeneponto yang terkenal dengan kuliner khas daging kuda dan peternakan kuda atau kabupaten Bulukumba dengan Suku Kajangnya, Bantaeng dengan Kota Tua, Gowa dengan kerajaan Sultan Hasanuddin layak untuk dikembangkan menjadi tujuan wisata.

Perlahan wisata tradisi yang ada di Bali atau wisata simbolik di Jogja akan tersaingi dengan wisata tradisi di negara lain yang memiliki potensi wisata budaya dan spiritual sama bagusnya dengan Bali namun masih langka. Wisata budaya dan spiritual yang sudah berkembang di negara lain namun masih “perawan” seperti Bhutan atau Tibet dan perlahan merangkak ada India, Filipina dan Myanmar.

Untuk mengembangkan potensi  wisata spiritual di Indonesia salahsatunya dengan membuka akses untuk daerah yang memiliki kekhasan budaya dan spiritual seperti di Batak (Sianjur Mula-Mula) yang dipercaya sebagai daerah lahirnya budaya dan agama asli Batak. Daerah Nusa Tenggara memiliki Suku Sasak, di Sulawesi Selatan ada Toraja dan di Nusa Tenggara Timur ada Wae Rebo dikenal dengan sebutan Kampung Kuno Di Atas Awan ini telah mendapat penghargaan dari Unesco kategori Award of exellence Asia Pacific For Cultural Heritage.

Kemenpar harus sesekali keluar dari brosur-brosur wisata dan mengembangkan tempat-tempat yang bahkan saat tidak dipromosikan, sebetulnya dapat memikat turis secara simultan.

***

Ratih Purnamasari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s