Travel to Remote: Perjalanan 10 Pulau di Taman Nasional Teluk Cenderawasih (Bagian 1)

DSC00045

 

Kepanikan di Atas Perahu

Air laut rasanya seperti jarum yang menusuk-nusuk di wajah Saya ketika berada di perahu motor dalam perjalanan dari Pulau Roon menuju Distrik Windesi. Lautan yang tadinya tenang kini mulai beringas dilalui perahu motor yang beranggotakan sembilan penumpang dan saya satu-satunya penumpang perempuan di perahu tersebut. Entah takdir seperti apa yang membawa saya berada dalam perjalanan ini, dimana waktu tempuh yang saya habiskan untuk bisa sampai di Papua Barat sudah menghabiskan waktu 24 jam dengan rute penerbangan Jogja-Makassar lalu Makassar-Sorong dan terakhir Sorong-Manokwari lalu di hari berikutnya saya sudah berada di atas perahu menyeberangi lautan lepas dari Pulau Roon menuju Distrik Windesi.

Manokwari bukan tujuan akhir dari perjalanan ini. Perjalanan dengan Kapal Ekspres akan ditempuh selama 5 jam untuk bisa sampai di Pulau Roon, Kampung Syabes yang menjadi lokasi penginapan kami di hari pertama. Adapun orang yang berperan cukup penting dalam kelancaran dan keselamatan perjalanan kami adalah Om Aku. Nama yang cukup unik kedengarannya karena saya menanyakannya hingga dua kali untuk memastikan pendengaran saya tidak bermasalah.

Om Aku, begitu saya menyebutnya adalah seorang yang bertugas mengamati batang pohon yang hanyut terbawa arus di lautan dan sekaligus yang bertugas mengamati pusaran air. Kata Om Aku, batang pohon yang hanyut di lautan bisa membuat bocor badan perahu yang tidak terbuat dari fiber. Perahu bisa bocor jika terkena hantaman batang pohon, terutama rangka perahu yang terbuat dari kayu katanya sangat rentan dengan hantaman batang pohon. Iseng saya bertanya ke Pak Marten soal kekuatan perahu yang saya tumpangi apakah cukup aman dalam perjalanan selama enam hari ini? Dan jawabannya cukup membuat saya bergidik.

Kata Pak Marten, “Waahh saya sudah rasakan perjalanan yang lebih seram dari perjalanan ini Mbak. Tahun lalu saya mengantar teman di Bappeda yang sakit parah dan dokter di Wasior menyarankan agar sore itu juga teman harus di rujuk ke Manokwari dengan kapal apapun yang ada. Karena nyawanya tidak akan tertolong jika harus menunggu sampai keesokan harinya.”

Padahal menurut Pak Marten tidak ada yang berani melakukan perjalanan di malam hari mengarungi lautan karena gelombang tinggi bahkan nelayan paling hebat sekalipun apalagi dengan kondisi kapal seadanya. Namun karena ikatan kekerabatan Suku Tator (Tana Toraja) yang cukup kuat maka dengan kenekatan penuh disertai harap dan doa, para kerabat dekat tetap membawa saudaranya ke Manokwari. Akhir dari cerita Pak Marten adalah semuanya dan kerabatnya segera mendapat pertolongan.

“Kamu tenang saja Mbak, di perahu ini ada Om Aku yang sudah pengalaman dengan lautan di Wondama. Dengan kelakar yang khas Pak Marten menggoda saya “Kamu tidak usah takut mati Mbak, mau kamu lagi makan bakso kalau ajal menjemput ya kamu pasti mati juga karena telan bakso.” Lalu kami pun tertawa terbahak-bahak mendengar candaannya.

Om Aku adalah penduduk lokal di Teluk Wondama, tanpa beliau saya tidak bisa membayangkan seperti apa akhir dari perjalanan ini. Bersama keponakannya yang dijuluki “motor race” mereka mengendalikan laju dan arah perahu tersebut hendak berlabuh. Bagi saya, Om Aku ibarat navigator dan si “motor race” ini kaptennya, sayangnya saya benar-benar lupa untuk menanyakan nama yang dijuluki “motor race” (baca motoreis).

Yang canggih di mata saya tentang si motor race ini adalah, dengan kaki kirinya dia menggerakkan setir perahu motor sambal berdiri. Sekali saya melihatnya berdiri dan perahu bisa bergerak ke kanan kiri lalu jempol kakinya menjepit setir perahu. Entah seberapa besar kekuatan jempol kakinya sehingga dia dengan mudahnya membuat perahu bisa ke kanan dan kiri. Bagi saya kemampuan si motorace sudah cukup membuat saya ternganga.

20170727_134839

Gelombang tinggi yang membuat perahu oleng ke kanan dan kiri menyebabkan saya dan dua orang surveyor cukup tegang. Ini bukan perjalanan pertama saya menyeberangi laut lepas di perairan Kawasan Taman Nasional Teluk Wondama, tahun 2016 bersama rombongan Dinas Pariwisata dan teman-teman dari WWF saya mengawali perjalanan menyeberangi lautan lepas dengan perahu motor dan minim fasilitas keamanan. Tahun 2017 saya kembali menyeberangi perairan Teluk Cenderawasih dan sensasi menyeramkan itu ternyata tetap saja mengganggu ketenangan saya.

“Ra, ini masih lama gak nyampenya?” seorang teman akhirnya mengeluarkan suara di tengah keheningan dan ketegangan. Dengan wajah pura-pura tenang saya pun menjawab santai bahwa sebentar lagi kita tiba di Distrik Windesi. Tidak ingin berlama-lama merasakan ketengangan bersama dua orang teman yang sudah terlihat pucat saya akhirnya memberanikan diri duduk di belakang dekat dengan mesin perahu bersama penumpang lainnya. Bersama mereka saya merasa lebih tenang sekalipun tinggi gelombang laut semakin terlihat jelas.

Dalam keadaan penuh tegang Saya melihat Pak Edi memegang tali pancing yang diurai di pundaknya sambal terkantuk-kantuk. Saya membatin sendiri bagaimana bisa Pak Edi merasakan kantuk di tengah suasana perjalanan yang sangat menyeramkan ini. Saya tidak bisa membayangkan mengapa saya ada di dalam perahu motor yang hanya mengandalkan mesin perahu dan beberapa gallon solar untuk menyeberangi lautan lepas dan tanpa pelampung. Ibaratnya jika kemungkinan terburuk benar-benar terjadi, perahu motor terbalik maka saya akan mengincar drum kosong sebagai media pelampung saya.

Dalam lamunan yang semakin ngawur tersebut tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara Pak Akwan yang berteriak kencang persis di samping telinga saya. Semua orang tiba-tiba berdiri, bahkan teman saya yang ada di dalam dek kapal mulai memegangi dinding perahu dengan wajah pucat tangan gemetaran. Saya pun panik karena Pak Edi dan rombongan berbahasa Papua tanpa satu kata pun saya pahami.

“Pak Edi, pak Edi ini ada apa?” saya mulai panik dan rasanya seperti ingin menangis membayangkan hal buruk yang akan terjadi beberapa waktu kemudian. Pak Edi lalu menarik tali (tasi) dengan tangan kosong yang tidak terbungkus sarung tangan lalu perlahan-lahan menarik tali pancing kemudian perahu motor perlahan mengurangi kecepatan. Ternyata dibalik kepanikan siang itu, Pak Edi berhasil menangkap ikan yang sangat besar. Saya belum pernah melihat ikan hasil pancing di laut sebesar yang ditangkap Pak Edi. Mungkin perumpamaan ini terlalu berlebihan tapi seperti itu yang saya saksikan. Warna sisik ikan itu dominan merah dengan mulut yang masih setengah terbuka. Ikan itu langsung ditangkap dan ditaruh dalam storage berisi es dalam keadaan masih setengah hidup.

Saat Pak Edi berhasil menangkap ikan merah itu, tiba-tiba para rombongan berteriak heboh dan sekali lagi dengan Bahasa Papua. Mereka kelihatan begitu senang sembari menepuk pundak Pak Edi yang memang nampak lebih kekar dibanding rekan-rekannya yang lain. Saya membayangkan berada dalam acara “Mancing Mania” dimana ketika para pemancing berhasil menangkap ikan maka mereka bersorak “Strike” Mancing Mania Mantap!

 

IMG_2869

Pengalaman itu cukup berkesan, lucu dan konyol bagi saya. Sesuatu yang awalnya saya pikir adalah keadaan darurat nyatanya adalah ekspresi antusias karena berhasil mendapatkan ikan. Lalu Pak Edi setengah berterik “Horee, Mbak Ratih su tidak kelaparan lagi, kita nanti bakar-bakar ikan Mbak, ayo kita jalan sudah!”

Perahu motor kembali melaju kencang menantang gelombang di sekelilingnya dan saya kembali merenung, mencoba tenang sepanjang perjalanan.

Papua, Tentang Malaria dan Kopi Hitam

Saya tidak bisa mengungkapkan betapa terharunya saya berada di tengah-tengah rombongan penduduk lokal Teluk Wondama. Betapa mereka sangat memperhatikan kenyaman saya selama perjalanan termasuk logistik makanan dan obat-obatan. Saya selalu berprinsip tidak merepotkan orang ketika kunjungan kerja atau meminta keistimewaan khusus kepada mitra kerja, termasuk meminta dengan sengaja membawakan barang bawaan saya. Saya hanya mengutamakan kebersihan fasilitas kamar mandi karena saya termasuk orang yang sering berurusan di toilet pada pagi hari. Soal makanan saya selalu bisa menyesuaikan.

Perbedaan cukup mencolok soal makanan selama di Papua adalah jenis makanannya yang serba seafood jadi terkadang di hari ke-lima saya sering merindukan menu ayam penyet. Hal lain yang harus saya persiapkan sebelum bertugas di Papua adalah obat-obatan yakni Pil Kina, dan vitamin atau madu. Pil Kina ini dikenal sebagai obat anti malaria, waktu itu saya minum pil yang pada logonya ada tulisan TNI AD. Adapun madu saya selalu membawa 2-3 botol, bahkan 1 botol bisa habis dalam sehari karena saya meminumnya seperti minum air 2-3 teguk. Perihal menahan nafsu makan hendaknya tidak dilakukan bagi kamu yang diet ketika berada di Papua, katanya salah satu cara terhindar dari malaria adalah makan 3x sehari.

Lalu bagaimana dengan kopinya? Nah ini yang ingin saya ceritakan. Jadi entah ini sugesti yang sedang saya bangun sendiri bahwa jika rutin meminum kopi hitam selama di Papua maka daya tahan tubuh saya akan lebih kuat. Saya melihat setiap kali kami menepi di Pulau untuk beristirahat maka para rombongan penduduk lokal ini senang bersantai sembari minum kopi hitam. Saya akhirnya mencicipi sedikit demi sedikit karena saya hanya peminum kopi ala café yang 90% cream dan 10% kopi. Ternyata kopi hitam dengan gula sedikit lebih enak dan bercitarasa di lidah saya. Saya jadi ketagihan minum kopi di pagi dan malam hari layaknya Pak Edi dan rombongan bahkan saya merasa nyaman bercerita apa saja dengan rombongan bapak-bapak itu sambil memegang gelas kopi. Ah rasanya benar-benar seperti menjadi penduduk lokal setempat.

DSC00083

Kegiatan minum kopi ini bisa menghasilkan beragam tema obrolan. Dari obrolan ringan hingga kehebohan yang terjadi di Ibukota Jakarta kami bahas layaknya gossip, dan mereka ternyata punya pandangan yang cukup objektif pada isu-isu intoleransi. Sembari berkelakar, salah satu rombongan yang bernama Om Gery berpendapat jika saya termasuk berani melakukan perjalanan seperti ini karena staf kantor mereka tidak semua berani melakukan kunjungan distrik dengan alasan takut dengan gelombang tinggi.

Perjalanan menuju 10 Pulau di Kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih rencananya akan kami selesaikan selama 6 hari. Pak Edi meminta saya dan teman dari Jogja agar cukup makan dan beristirahat ketika malam hari. Kata Pak Edi kita tidak pernah tahu apa yang terjadi selama perjalanan ini, tapi kita terus berdoa semoga Tuhan melindungi kami dari marabahaya dan kembali dengan selamat. Pak Akwan juga menambahkan agar tidak mengotori pulau dan tidak mengeluarkan kata-kata kotor selama berada di pulau. Tidak peduli kamu seorang yang percaya atau tidak pada hal gaib tapi bagi Pak Edi, Pak Akwan, Pak Marten, Om Gery, Om AKu dan Motor race bahwa di Tanah Papua segala sesuatu bisa saja terjadi dan di luar akal sehat.

Siang itu selepas melakukan survei di Distrik Windesi kami kembali melanjutkan perjalanan di Distrik Rumberpoon pada pukul 13.00 dan rencananya akan menginap di Pulau Purup. Perjalanan ini masih Panjang dan kami rombongan dari Jogja baru menuntaskan 1 distrik. Perjalanan panjang ini tentu menyimpan keseruan, ketegangan dan permenungan sepanjang perjalanan ini. Layakya Eric Weiner jurnalis The New York Times yang senang merekam jejak perjalanan dalam jurnalnya, saya pun berharap tulisan ini sebagai pembuka bagi perjalanan-perjalanan berikutnya di Kawasan Taman Nasional Teluk Wondama.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s